Wisata Sejarah | Kota Pangkalpinang
Rumah Residen
Sebagai kota bersejarah, Kota Pangkalpinang memilki banyak warisan sejarah yang dapat mengungkapkan kembali kejayaan bangsa di masa lampau serta mencermati jejak-jejak derap langkap pembangunan daerah. Wisatawan dapat berkunjung ke Rumah Residen, bangunan ini terletak di jalan Merdeka nomr 1. Sebelum menjadi rumah dinas Walikota adalah rumah Residen Belanda. Pada tahun 1913 Belanda memindahkan pusat Keresidenan dari Mentok ke Pangkalpinang sekaligus memisahkan antara administrasi pertambangan BTW (Banka Tin Winning) dengan administrasi negeri (Bestuur), dengan Residen pertama A.J.N Engelenberg. Rumah ini sangat bersejarah karena merupakan pusat pemerintahan dan pusat kegiatan di Kota Pangkalpinang. Di depannya terdapat alun-alun atau lebih dikenal dengan Lapangan Merdeka sebagai tempat bertemunya para pemimpin dengan masyarakat. Di halaman rumah tersebut juga terdapat dua meriam kuno berangka tahun 1840 dan 1857.
Makam Kerkrof
Kompleks Pemakaman Balanda (kerkrof), terletak dijalan Sekolah Kelurahan Melintang Kecamatan Rangkui. Di sini terdapat sekitar 90 makam yang tertua berasal dari tahun 1902 dan termuda sekitar tahun 1950-an. Kompleks pemakaman umum orang Belanda, salah satu makam tertua adalah makam Nyonya Irene Mathilde Ehrencron yang wafat pada tanggal 10 Maret 1928. Di sini juga terdapat makam tentara Belanda korban Perang Dunia Kedua. Kerkrof adalah salah satu bukti bahwa Pangkalpinang memiliki nilai strategis bagi Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu.
Perigi Pekasem
Sumur atau perigi Pekasem terletak di Kelurahan Tuatunu Indah Kecamatan Gerunggang. Perigi atau sumur ini dijadikan tempat untuk membuang mayat orang-orang yang terbunuh TKR (tentara Keamanan Rakyat), karena dianggap musuh atau sebagai mata-mata Belanda atau sekutu. Tuatunu sendiri pada waktu itu merupakan kampung yang dijadikan salah satu markas TKR yang terletak di Hutan Titi Rengas, Kampung Cekong Abang Air Duren dan Hutan Arang, Air Kelapa Tujuh, terletak antara bukit, bulur air dan Air Kelapa Tujuh Tuatunu. TKR sendiri dibenutk oleh pemerintah berdasarkan Maklumat tanggal 5 Oktober 1945 dikarenakan situasi Nagara Kesatuan Republik Indonesia yang baru terbentuk dalam keadaan genting dan berbahaya karena kedatangan tentara Belanda (NICA) karena ingin kembali berkuasa di Indonesia.
Museum Timah Indonesia
Museum Timah Indonesia terletak dijalan Janderal Ahmad Yani no. 17, ada di Indonesia. Sebelum menjadi museum rumah ini merupakan rumah tempat tinggal karyawan perusahaan BTW ( Banka Tin Winning). Museum ini menjadi tempat perundingan pemimpin-pemimpin Republik dengan Belanda dan UNCI sebelum perundingan Roem-Royen. Sekarang rumah ini menjadi Museum Timah Indonesia Indonesia (2 Agustus 1997) dan disini akan diketahui bagaimana perkembangan sejarah pertimahan di Indonesia. Wisata Sejarah | Kab. Bangka
Phak Khak Liang
Tempat ini berada di Desa Kuto Panji, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Sekitar 2 km dari Kota Belinyu atau 53 km dari Kota Sungailiat. Pha Kak Liang adalah sebuah kawasan wisata bergaya China, yang dibangun didaerah bekas tambang timah, luasnya mencapai 2 ha. Wisatawan yang datang kesini seolah berada didaratan Hongkong atau Taiwan. Daya Tarik lain bagi wisatawan disini yang tak kalah menariknya adalah penunjung dapat menyaksikan ikan air tawar yang besar-besar bermunculan dari permukaan air apabila wisatawan memberikan makanan ikan yang telah disediakan oleh penjaga setempat. Menurut cerita, ikan ikan tersebut tidak boleh dipancing atau dimakan.
Kampung Gedong
Perkampungan/pemukiman masyarakat asli Cina dapat kita temui didaerah Kuto Panji, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, kurang lebih 54 km dari Kota Sungailiat. Selain itu terdapat pula di Kampung Gedong, Desa lumut, Kecamatan Riau Silip, kurang lebih 51 km dari Kota Sungailiat atau kurang lebih 14 km dari Kota Belinyu. Kehidupan mereka rata-rata berdagang dan pembuat makanan khas Bangka seperti kerupuk, kemplang, getas dan lain-lain.
Makam Depati Bahrin
Makam ini berada di desa Kimak, Kecamatan Merawang. Lokasi ini dapat ditemput sekitar 30 km dari Kota Sungailiat. Depati Bahrin adalah salah seorang pahlawan bangka yang menentang penjajah belanda. Kuburan dibawah pohon durian yang sangat besar ini merupakan bagian tak terpisah dari Upacara Adat Mandi Belimau.
Wisata Sejarah | Kab. Bangka Selatan
Benteng Penutuk
Benteng Penutuk ini terletak di Desa Penutuk Kecamatan Lepar Pongok Kabupaten Bangka Selatan, berjarak sekitar 2 km dari Desa Penutuk dan untuk mencapai lokasi benteng ini dapat ditempuh selama 25 menit perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda dua
Benteng Toboali
Benteng ini terletak di Kelurahan Tanjung Ketapang Kecamatan Toboali Kabupaten Bangka Selatan, lokasi benteng ini dapda ditempuh sekitar 10 menit perjalanan dari pusat Kota Toboali dengan menggunakan kendaran roda dua dan empat
Mercusuar Lampu Besar
Mercusuar ini terletak di Desa Batu Betumpang Kecamatan Payung Kabupaten Bangka Selatan, lokasi mercusuar ini dapat ditempuh selama 1,5 jam perjalanan dari Kota Toboali dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat.
Mercusuar ini sudah berumur lebih dari satu abad dan merupakan bangunan peninggalan Belanda, sampai saat ini mercusuar ini masih berfungsi sebagai navigasi perahu-perahu nelayan.
Peninggalan Sejarah Pergam
Benda-benda sejarah ini terdapat di Desa Pergam Kecamatan Airgegas Kabupaten Bangka Selatan, lokasi Desa Pergam dapat dicapai dalam 30 menit perjalanan dari Kota Toboali. Sampai saat ini benda-benda tersebut masih tersimpan disalah satu rumah penduduk Desa Pergam yang merupakan juru rawat benda-benda tersebut.Rambut Batin Tikal
Batin Tikal adalah seorang pejuang pada masa penjajahan Belanda, dia dikenal karena kesaktiannya, walaupun Batin Tikal sudah tiada tetapi rambutnya masih tersimpan hingga sekarang dan diwariskan secara turun temurun kepada keturunannya. Sampai saat ini rambut tersebut tidak akan tertembus oleh peluru, akan tetapi untuk mendapatkan rambut tersebut tidaklah mudah hanya yang berjodoh yang bisa memilikinya.
Makam Karang Panjang
Makam ini terletak di Desa Bangka Kota Kecamatan Simpang Rimba Kabupaten Bangka Selatan, berjarak sekitar 141 km dari Kota Toboali dan lokasinya dapat ditempuh dalam 2 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat. Menurut cerita makam ini merupakan makam seorang pejuang pada masa penjajahan Jepang, konon menurut penduduk setempat jika bulan purnama tiba ukuran makam ini akan ikut membesar dan ketika bulan purnama hilang ukurannya akan kembali seperti semula.Makam Kreo Panting
Makam ini terletak di Kecamatan payung Kabupaten Bangka Selatan, berjarak sekitar 6 km dari Kecamatan Payung dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat. Kreo Panting merupakan seorang pejuang pada masa penjajahan Belanda, ia berasal dari Pulau Jawa karena di kejar oleh Belanda ia melarikan diri kepulau Bangka dan sampai ke Desa Payung. Karena tidak mau tunduk kepada Belanda akhirnya ia di pasung dan di penggal, kepalanya di bawa ke Palembang dan tubuhnya di makamkan di Payung.Wisata Sejarah | Kab. Bangka Barat
Wisma Menumbing
Terletak di Kota Mentok, salah satu tempat yang menjadi rumah pengasingan Ir. Soekarno (Presiden RI Pertama) dalam perjuangan perintis kemerdekaan pada masa penjajahan Belanda. Rumah ini terletak di pupuncak Gunung Menumbing dengan panorama yang indah dan cuaca yang sejuk.
Wisma Ranggam
Terletak di Kota Mentok. Di wisma ini terdapat kamar Presiden RI pertama. Wisma ini merupakan tempat bersejarah bagi Bangsa Indonesia, karena disinilah tempat pembuangan / pengasingan Proklamator RI dan tempat mereka mengadakan pertemuan-pertemuan menyusun strategi kemerdekaan.
Rumah Mayor (Muntok)

Proklamator Bung Karno dan Bung Hatta
Monumen Proklamator Bung Karno dan Bung Hatta adalah sebuah monumen yang baru dibangun dikota Muntok dan diresmikan oleh Wakil Presiden RI Mega Wati Soekarno Putri pada 2 Juli 2000. Monumen dengan tinggi sekitar tujuh meter berbentuk batu lonjong dengan seekor burung Garuda berkalungkan perisai Lima Sila yang mengepakkan sayapnya seakan-akan hendak terbang ini dibuat dari batu granit. Di pelataran depan, patung Bung Karno dan Bung Hatta berdiri gagah sedang menunjuk ke arah laut Selat BangkaMonumen ini berada persimpangan jalan antara lapangan bola dan kantor pos dan berada dekat pusat kota Monumen ini semakin emperkaya keberadaan Kota Muntok sebagai pusat perjuangan yang bersejarah dan berbudaya. Monumen Proklamator Bung Karno Dan Bung Hatta sarat dengan makna dan perjuangan bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan. Monumen ini melengkapi nilai bersejarah monumen lainnya seperti Pesanggrahan Bung Karno (Wisma Ranggam) Vila di Bukit Menumbing dan saksisaksi sejarah lainnya yang masih dapat dilihat di Kota Muntok.
Makam Pangeran Pakoeningprang
Pangeran Hario Pakoeningprang adalah salah satu pahlawan dari Yogjakarta yang diasingkan oleh Belanda di Kota Muntok pada tanggal 8 Februari 1897. Pengasingan Pangeran Hari Pakoeningprang berawal dari diutusnya beliau untuk meredam perlawanan rakyat Aceh terhadap pemerintahan Belanda. Tetapi Setibanya di Aceh Pangeran Hario malah berbalik melawan Belanda. Setelah tertangkap Beliau lalu diasingkan di Bangka (Muntok) pada tanggal 8 Februari 1897 hingga Wafat pada tanggal 18 Agustus 1897. Pangeran Hario Pakoeningprang adalah Cucu dari Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam II.
Makam H. Hatama Rasyid (Jebus)
Makam ini adalah makam penyebar Agama Islam yang di keramatkan. Makam ini terletak di Desa Bakit Kecamatan Jebus berjarak 4D.35 Km dari pusat kota. Makam ini setiap tahunnya banyak dikunjungi oleh peziarah dari Kabupaten Bangka Barat maupun dari Kabupaten-Kabupaten dan bahkan banyak juga peziarah-peziarah dari luar pulau Bangka datang ketempat ini untuk berziarah. Ditempat ini mereka yang datang berdoa untuk meminta agar murah rezeki, jodoh dan kesehatan kepada ALLAH. Dengan kondisi jalan yang mulus, tempat ini dapat ditempuh dengan menggunakan mobil selama kurang lebih 2 jam dari kota Muntok.Wisata Sejarah | Kab. Belitung Timur
Bendungan Pice
Bendungan ini adalah peninggalan kolonial Belanda, yang terletak di kecamatan Gantung. Fungsi utama dari bendungan pice ini adalah senagai pengatur tinggi rendahnya permukaanair, dibangun pada tahun 1928.
Rumah Dinas Bupati
Rumah Dinas Bupaiti terletak di Bukit Samak Manggar, rumah ini dulunya milik PT. Timah yang dibangun pada zaman Belanda.
Musium Buding
Musium Buding ini terletak di Desa Buding kecamatan Kelapa Kampit. Musium ini banyak menyimpan benda-benda bersejarah peninggalan kerajaan kuno yang ada di Belitung.
Wisata Sejarah | Kab. Belitung
Museum Pemda Belitung
Museum Pemda Belitung masih terletak di dalam Kota Tanjungpandan tak jauh dari Pantai Tanjung Pendam. Museum ini dahulu bernama Museum Geologi dan dibangun atas prakarsa DR. Osberger seorang ahli Geologi berkebangsaan Belgia tahun 1963 pada saat beliau masih bertugas di unit Penambangan Timah Belitung. Di Museum ini bisa melihat sejarah penambangan timah di Pulau belitung dalam bentuk replika tambang dan peralatannya, barang-barang peninggalan bersejarah, dan juga sebuah kebun mini lengkap dengan sarana bermain anak.
Museum Badau
Jaraknya hanya 20 Km dari kota Tanjung Pandan Letaknya Strategis di simpang empat kota Kecamatan Badau. Museum Badau ini merupakan museum milik Pemerintah Daerah yang dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Belitung yang letaknya di Desa Badau Kecamatan Badau. Museum ini merupakan tempat penyimpanan benda-benda bersejarah peninggalan kerajaan badau.
Wisata Sejarah | Kab. Bangka Tengah
Makam Belanda (D.W. BECKING)
Merupakan salah satu makam kolonial Belanda yang pernah menduduki Kepulauan Bangka. Dimakamkan pada tahun 1851 didesa Sungaiselan tepatnya dibelakang asrama Polesek Sungaiselan Kecamatan Sungaiselan kurang lebih 65 km dari Ibu Kota Kabupaten Bangka Tengah.
Tugu Pahlawan
Tugu Pahlawan ini terletak di desa Tanjung Berikat Kecamatan Koba Sekitar setengah jam dari desa Lubuk Besar atau Sekitar 1 jam Dari Ibu Kota Kabupaten Bangka Tengah Tugu ini melambangkan perlawanan para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia dengan para penjajah waktu itu yang ingin Memasuki pulau Bangka melalui Tanjung Berikat.
Mercusuar Pulau Pelepas
Mercusuar ini dibuat oleh kolonial Belanda tahun 1893 yang disebut dengan Mercusuar H.M. Koningin Emma. Mercusuar ini terletak di Pulau Pelepas, sekitar kurang lebih 2,5 jam dari Desa Sungaiselan. Sampai sekarang masih difungsikan, dengan lingkungana pulau yang masih alami, pengunjung dapat menikmati pemandangan disekitarnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar